04/05/2013

Lingkaran




Lingkaran adalah sebuah kurva tertutup yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan titik dimana mempunyai jarak yang sama dari suatu titik. Karena merupakan sebuah kurva tertutup maka bagian yang satu tidak dapat dipisahkan dengan bagian yang lainnya. Semuanya merupakan satu kesatuan yang lengkap, hilang satu bagian, bukan sebuah lingkaran.

Begitu pula dengan ISLAM. ISLAM itu lingkaran. Bukan sebuah titik. Titik yang satu berhubungan dengan titik yang lain dan tidak dapat dipisahkan. Yang kami maksud adalah ISLAM itu bukan ajaran yang meyakini satu ayat, tapi menghiraukan ayat yang lain. Meyakini satu ayat, tapi menolak ayat yang lain. Islam itu keselurahan dari ayat-ayat tersebut

ISLAM itu bukan seperti 5 orang buta yang disuruh mendefinisikan gajah dengan cara memegang bagian tubuh gajah. Ada yang memegang bagian kakinya saja, belalainya saja, telinganya saja, ekornya saja dan badannya saja. Setelah itu masing-masing orang buta disuruh menjelaskan kembali, bagaimanakah bentuk gajah tersebut.
Yang satu bilang, gajah itu bentuknya bulat dan panjang sama seperti bentuk tabung
Yang kedua bilang, hampir sama seperti orang pertama. Hanya saja bentuknya tidak seperti tabung. Semakin kebawah bentuk lingkarannya semakin kecil. Hampir kayak kerucut bentuknya.
Yang ketiga bilang, gajah itu tipis kayak lembaran daun yang lebar
Yang keempat bilang, gajah itu kecil sama seperti tali
Sedangkan yang kelima bilang, gajah itu tidak berbentuk. Lebar, luas, sehingga tidak dapat menjelaskan bentuk gajah seperti apa.

Apa-apa yang didefinisikan oleh masing-masing orang buta itu BENAR. Mendefinisikan gajah sesuai menggunakan indera peraba. Benar dalam bagian-bagian tertentu saja, belum keseluruhan. Definisi yang benar tentang gajah didapat jika kelima definisi dari 5orang buta tersebut dikumpulkan menjadi satu lalu disimpulkan. Bahwa gajah itu binatang yang amat besar, punya kaki empat, bertelinga lebar, punya belalai panjang seperti kerucut dan mempunyai ekor.

Jika masing-masing orang buta ngotot mempertahankan pendapat mereka masing-masing maka perpecahan, perselisihan dan permusuhanlah yang terjadi. Si A mempertahankan bahwa gajah itu begini begini, si B juga, dan yang lainpun mengikuti jejak teman lainnya. Sampai kapanpun kelima orang tersebut tidak akan menemukan kesimpulan yang benar tentang gajah.

Begitu pula dengan ISLAM. ISLAM itu lingkaran. Jangan mempelajari Islam dari satu titik aja, masih banyak titik-titik yang lain yang merupakan pelengkap sehingga mencapai kebenaran yang hak. Kebenaran yang bukan berasal dari angan-angan kosong belaka. Pelajari semua titik-titik yang ada lalu simpulkan.

Kami ambil contoh, jika ada pembahasan tentang suatu topik. Ayat yang satu bilang A, ayat lain bilang B, yang lain lagi bilang C dan masih banyak lagi ayat yang lainnya bilang D,E, F, G dan seterusnya. Kita jangan hanya meyakini satu ayat saja tetapi mengabaikan ayat yang lainnya. Kita juga tidak diperbolehkan meyakini satu ayat saja tetapi menolak ayat yang lainnya. Semua ayat-ayat yang disebutkan sebagai dasar/dalil semuanya benar. Tapi hanya menerangkan per bagian-bagian saja. Jangan hanya gara-gara dasar/dalil yang kita gunakan berbeda akhirnya kita bermusuhan dan menghakimi bahwa itu SALAH. Akibatnya bermusuhan karena kita berbeda pendapat tentang suatu hal.

Pelajari semua titik-titik yang ada, pelajari mulai awal sampai akhir, ulangi lagi, lagi dan lagi. Suatu saat kita pasti akan menemukan bahwa titik ini berhubungan dengan titik ini. Yang ini dengan yang ini, semuanya berhubungan tidak dapat dipisahkan. Akhirnya dapat mengambil kesimpulan yang benar “oh....maksud dari topik ini begini”.

Tetap jaga persatuan antar sesama
WE ARE ONE

01/05/2013

Rahasia Bertawakal Kepada Allah SWT



RAHASIA BERSERAH DIRI DAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH


Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan Allah, dan yang dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Allah telah menciptakan semua makh­luk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa — masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdir­nya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersan­dung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu anda, teman kepala sekolah anda, diri anda — pendek kata segala sesuatunya, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’. Saat kematian, saat jatuh­nya sebuah daun, saat buah persik dalam peti es membusuk, dan batu yang menye­babkan kita tersandung — pendek kata semua peris­tiwa, yang remeh maupun yang penting — semuanya tersimpan dalam kitab ini.
Orang-orang yang beriman meyakini tak­dir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang ter­baik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah mencipta­kan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terse­rang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau mengha­dapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut da­lam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka. Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesung­guh­nya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang meng­hadapi semuanya ini dengan sabar dan ber­tawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali ‘Imran: 159) Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini, beliau bersabda:
“Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan buruk).”1
Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang bertawakal kepada Allah adalah tentang “melakukan tindakan”. Al-Qur’an memberitahukan kita tentang ber­bagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelas­kan rahasia bahwa tindakan-tindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah takdir. Nabi Ya‘qub a.s. menasihati putranya agar melakukan bebe­rapa tindakan ketika memasuki kota, tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah. Inilah ayat yang membicarakan masalah tersebut:

“Dan Ya‘qub berkata, ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu ger­bang yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetap­kan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendak­lah kepada-Nya saja orang-orang yang berta­wakal berserah diri’.” (Q.S. Yusuf: 67).

Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Ya‘qub, orang-orang yang beriman tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, sese­orang harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini merupakan tindakan yang penting dan meru­pa­kan sebuah bentuk ibadah demi kesela­matan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuat­an tampaknya dapat menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan keputusan pen­ting yang dapat mengubah jalan hidup­nya, atau seseorang dapat sembuh dari penyakitnya yang memati­kan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya. Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu. Sebagian orang salah menafsir­kan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai “mengatasi takdir sese­orang” atau “mengubah takdir seseorang”. Tetapi, tak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memi­liki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak meng­ubah kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetap­kan demi­kian. Karena itulah orang-orang yang meng­hin­dari kematian atau penyakit, atau meng­ubah jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Tidak ada suatu bencana pun yang me­nimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami mencipta­kannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-23).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah dite­tap­kan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah me­nyata­kan kepada manusia supaya tidak ber­duka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya, seseorang yang kehilangan semua harta ben­da­­nya dalam sebuah kebakaran atau meng­alami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan. Dengan demi­kian mustahil baginya untuk menghin­dari atau mencegah kejadian tersebut. Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu, Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Seba­liknya, orang-orang yang tidak berta­wakal kepada Allah akan selalu mengalami kesulit­an, keresahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupan mereka di dunia ini, dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat kelak. Dengan demiki­an sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan keberuntungan dan kete­nang­an di dunia dan di akhirat. Dengan me­nyingkap rahasia-rahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai kesulitan dan menjadi­kan ujian dalam kehidupan di dunia ini mu­dah bagi mereka.

instal ubuntu

Langkah-langkah instal ubuntu
  1. Langkah pertama adalah jalankan virtual box (oracle virtual machine di PC)

  2. Setelah membuka dan menjalankan Virtual box pastikan bahwa telah ada file ISO Ubuntu yang aka di Installkan, perhatikan gambar berikut :

  3. Apabila telah ada file ISO Ubuntu maka proses instalasi bisa langsung dilakukan klik tombol start pada layar utama virtual box perhatikan gambar berikut :

  4. Setelah itu akan muncul dua pilihan yaitu Try Ubuntu Version**** atau Install Ubuntu Version **** untuk lebih mengenal Ubuntu sebaiknya kita pilih Try Ubuntu, nanti setelah memilih itu lalu bisa menginstallnya lewat desktop try ubuntu tadi, perhatikan gambar :

  5. untuk menginstall ubuntu pilih menu Install Ubuntu yang terletak pada Desktop, sesuai gambar 3.5, setelah mengkliknya maka akan muncul pilihan untuk menu untuk bahasa yang digunakan pada ubuntu nantinya.

  6. Setelah memilih default bahasa lalu pilih forward, dan akan tampil zona waktu, sesuai gambar berikut :

  7. Setelah mengatur zona waktunya pilih forward lagi, dan akan muncul pilihan untuk memilih layout keyboard, sesuai gambar berikut:

  8. Apabila sudah selesai mengatur layout keyboard klik forward, dan akan diarahkan ke Prepare disk space, sesuai gambar berikut:
  9. Selanjutnya adalah proses mengisi data user login dan password, sesuai gambar berikut:
  10. Jika semua kolomnya telah terisi, klik forward, maka akan muncul rekapitulasi data penginstalan yang telah dilakukan sejak awal proses tadi, sesuai gambar berikut:
  11. Selanjutnya adalah klik install,,, setelah itu tunggu beberapa saat karena proses instalasi Ubuntu sedang berlangsung, sesuai gambar berikut :
  12. Apabila proses instalasi telah selesai maka akan muncul perintah restart (reboot) pilih saja yes, setelah di restart maka tampilan Ubuntu akan menjadi seperti berikut ini

  13. Apabila password yang di inputkan benar maka akan masuk ke jendela utama linux Ubuntu sesuai gambar berikut :
sekian penjelasan dari kami mengenai cara Instalasi Linux Ubuntu di VirtualBox
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut